Wednesday, 19 June 2019

S3 ASI : Ganendra's ASI Journey

Sudah 3 hari, terhitung sejak hari Senin kemarin, Gane sudah total tidak menyusu lagi. Walaupun saya merasa masih terlalu awal untuk bilang Gane sudah disapih, tapi sepertinya sudah cukup untuk menulis tentang perjalanan ASI Gane sampai S3 ini – karena sudah lewat usia 24 bulan, hihi..

Sejak awal menyusui, alhamdulillah perjalanan mengASIhi saya tidak menemukan kendala yang berarti. Beberapa kali pernah tiba-tiba PD sakit padahal rutin disusui, pernah juga bengkak dan keras sampai saya demam (waktu itu sempat ditegur salah seorang keluarga “makanya habis lahiran jangan banyak gerak, organ tubuhmu belum kembali pada tempatnya.” Yang Cuma saya bales pake senyum aja. Memangnya hamil dan lahiran itu bikin organ dalam tubuh jadi keacak atau gimana?), drama telat pumping sampe PD keras kaya batu waktu masih bekerja juga pernah (my first and last experience. Kapok banget parah! Untung di kantor ada sepupu perempuan jadi enak untuk minta tolong ambilin air hangat di botol untuk kompres PD biar bisa dipompa. Rasanya waktu itu pengen banget pulang dan sodorin ke Gane!). Tapi supply ASI alhamdulillah selalu cukup. Saya bilang cukup karena sejak berhenti kerja ngga pernah lagi rutin pumping jadi ngga tau seberapa banyak stok ASI yang saya punya di “pabriknya”. Di akhir-akhir waktu mengASIhi bahkan saya suka pencet PD sendiri untuk memastikan “ASI gue masih ada ngga sih?” karena ngga pernah lagi ngerasain PD penuh, hahaha.. dan alhamdulillah, masih ada.

Perihal pelekatan Gane juga ngga ada kendala berarti. Di hari kedua menyusu, Gane langsung kuat banget menghisapnya (ngga henti-henti saya bilang alhamdulillah..) padahal waktu IMD saya clueless banget Gane Cuma ditaroh di dada aja tapi ngga ada diarahin ke PD untuk nyusu, dan Gane sendiri Cuma ngiler aja ngedeplok di dada saya. Duh, mager sedari lahir ya Ne? :)) Satu-satunya konsultan laktasi yang saya punya adalah Ibu dan akun instagram @asiku.banyak (eh berarti bukan satu-satunya ya? hehe..) Waktu itu kalau ngga salah dikasih tau sama seorang teman karena saya sempat posting kecemasan soal hasil pumping salah satu PD yang tiba-tiba drop setengahnya dari PD yang satunya. Padahal waktu itu saya kejar tayang stok ASIP karena baru mulai pumping waktu sisa cuti tinggal 1 bulan lagi. Keenakan bookkk leyeh-leyeh, bayi tidur-emak tidur. Padahal newborn kan isinya tidur doang, kebayang dong enaknyaaaa hahaha. Akhirnya saya ngintip akun @asiku.banyak ini. Dari akun itu saya tau soal let down reflex (LDR), konsep supply-demand pada ASI, dan hal-hal lain terkait ASI, yang tadinya saya BUTA BANGET. Asli, ngga sempet cari-cari info waktu hamil, jadi saya memang mamak clueless banget di awal jadi Ibu.


"Proses IMD. Anaknya lagi ngilerrr"

"1-day-old Ganendra. Udah pinter nenen!"

Lalu, apa yang paling sulit dari perjalanan mengASIhi versi saya? Yang paling sulit adalah me
-maintain emosi dan mood supaya happy selalu dengan harapan ASI bisa mengalir deras bagai hujan di akhir tahun. To be honest, saya tidak berharap banyak dari orang-orang di sekitar saya. Saya tidak berekspektasi terlalu tinggi soal bagaimana mereka akan mendukung perjalanan mengASIhi saya. Jadi, sejak awal mengASIhi, saya push diri saya untuk keep going, tetap mengASIhi, apapun yang terjadi, saya harus mandiri dan mengatur sendiri apa-apa saja yang bisa mempertahankan supply ASI. Selama kurang lebih 25 bulan perjalanan mengASIhi, setidaknya ada 2 force major yang cukup bikin saya terguncang dan butuh effort lebih dari biasanya untuk regain good mood – for the sake of ASI. Kejadian pertama cukup private sehingga ngga akan saya bahas disini, hehe.. kejadiannya kira-kira waktu Gane umur 5 bulan. Kejadian kedua, adalah waktu Gane didiagnosa ITP dan harus rawat inap di umur 12 bulan. Perasaan saya jelas ngga karuan waktu itu. Gane yang aktif, sehat, diam-diam trombositnya drop sampai 22.000 (dari kisaran normal    ). Harus langsung dirawat inap sedangkan posisinya di Pandeglang, harus ke Serang paling dekat untuk dapat perawatan yang menenangkan (buat saya), pikiran udah kemana-mana (karena googling soal ITP ini bisa sampe serem banget), ngeliat Gane diinfus (mana sempet geser infusnya jadi tangan Gane bengkak dan memar). Dan seolah-olah belum cukup kekalutan mamak, ada aja pihak yang seharusnya jadi support system saya malah menyalahkan saya karena saya belum mendaftarkan Gane ke asuransi manapun, jadi biaya yang dikeluarkan untuk Rumah Sakit harus ditanggung sendiri. Ajaib ya J


"1-year-old Ganendra. Lulus S2 ASI!"

Sendirian menghadapi tekanan itu, akhirnya saya ngga kuat. Tangis saya pecah di kamar mandi Rumah Sakit (bahkan sambil mengetik sekarang, masih terasa denyut di dada. Sesak dan sakit sekali). Tapi, seperti Ibu yang lain, Ibu harus kuat! Demi setetes ASI (setetes tapi berkali-kali), saya berjanji akan menangis satu kali itu saja, dan setelah keluar dari kamar mandi, saya (coba) lupakan semuanya, fokus kembali mengASIhi Gane. Lagi-lagi, tried so hard to regain my good mood – for the sake of ASI. Dan sambil menulis ini rasanya ingin mamak berkata “BOLEH KAN GUE NANGIS LAGI KARENA INI? BELOMAN KELAR RASA SEDIHNYA KALAU DIINGETTTTTTT.”

Okay, kembali ke perjalanan mengASIhi. Gane ini anaknya nenen boy banget. Wajar sih 24/7 bareng terus sama gentongnya, kena dot selama 2 bulan di usia 4 bulan karena saya kerja, sisanya selalu langsung langseng buka lep! Gane nangis, nenen. Gane bosen, nenen. Gane ngantuk, nenen. Gane belom ngantuk tapi dipaksa tidur, nenen. Gane ga pengen nenen tapi ibunya pengen rebahan dengan tenang, nenen. Pokoknya kalau nempel nenen Gane bisa tidur seharian. Dan waktu masa menyapih datang, saya memang khawatir “Gimana anak ini bisa berhenti nyusu??” Well, tapi kenyataannya bisa. Saya meremehkan Gane. Meremehkan kemampuan dia untuk mengerti ucapan saya, mengendalikan diri, dan kemampuan lain yang mendukung keberhasilan proses menyapih.

"2-year-old Ganendra. Siap-siap sapih.."

Seperti yang saya tulis di awal, it’s been 3 days. I no longer breastfeeding, but we’re still cuddling, kiss-on-cheek, dan masih becanda-becanda seperti biasa. Gane bukan tipe anak yang suka dipeluk, dielus, atau dipuk-puk sebelum tidur. Jadi sebelum tidur dia akan menatap langit-langit, entah mikirin apa, lama-lama tidur sendiri. Tapi saya tetap tidur di sebelah Gane. Pura-pura tidur sampai Gane terlelap. Tidak bepindah dari sisinya semalaman, just like we used to sleep ketika masih menyusui. Nothing changed, Gane. Kecuali sekarang Gane sudah semakin besar, sudah ngga harus gelayutan sama Ibu karena ngga tergantung lagi sama ASI. 

But you’re still my baby..
Forever my baby J


Continue Reading...

Followers

Follow The Author