Saturday, 14 March 2015

A Daddy's Girl

I’m not a daddy's girl type. At least I don’t think I am.

And I always curious about letter, quote, wise words, about how a daddy's girl type feels toward her father. I always take a time to peek those post. One of posts I peeked this evening is a letter from a father to his girl’s husband-to-be.

In general, the letter tells how a father expect his girl’s husband treat her, after ‘giving’ her to her husband. To always put smile on her, to take care of her, to not giving up whatever comes through their marriage, and some other same things.

Some girls will remember their dad, and somewhat feel touched. Me, reading the letter, in other way is remember my dad and smiling.

I didn’t have much time to spend with my father. Most of my childhood filled with memories of separation with him, unfinished business between him and mom, and of course.. unlimited good times with my mother. And as I’m looking to my coming-soon-marriage-life, I think my daddy-daughter relationship gives a little bit different effects on how I interpret that letter.

My daddy-daughter relationship teach me how to be a strong woman, at least on the mind. Giving me idea that separation is not the end of life. Bad things can happen, and life still goes on. I don’t feel marriage is like ‘giving’ me from one man (father) to another man (husband). I choose my own husband, with lots of criteria I think I need from a partner, and also every problem on him I think I could handle.

Being married then, I see as a union of two person who is willingly and consciously agreed to share their lives, their work, their dreams, their hopes, their fears, their problems. He ‘took’ me from my parents and so do I, ‘took’ him from his parents. 
Sounds fair?

So, no need to worry daddy, no one is putting down my smile but me. No one is replacing you or mom. My husband (to be) may be a father to his daughter but not for me. Each of you has a responsibility that couldn’t be switched.


Dad, thank you for making me this strong. For teaching me how to see marriage as a agreement between two independent and strong people. It doesn’t feel like I’m about to be kidnapped from you. It feels like I’m going to give you a son (seems like I’m the one who’s kidnapping him, haha..) 

Please stay this way. Just not too far, yet not too close J
Continue Reading...

Friday, 13 March 2015

Just Another Random Thought

Every one of us has a relationship story.

Ada yang saling cinta, tapi beda agama.
Ada yang saling cinta, tapi ditentang orang tua.
Ada yang dapet restu orang tua, hidup makmur sejahtera, pasangan cinta tiada tara, tapi dia nya biasa aja.
Ada yang dapet restu orang tua, saling cinta, tapi hidupnya masih mendaki biar sejahtera.
Ada yang dapet restu orang tua, saling cinta, hidup makmur sejahtera, tapi sehari-hari penuh drama kurang piknik.

Ada lagi?


And also, every one of us has a priority.
Kenapa akhirnya yang beda agama memilih pindah supaya terus bersama, atau justru nggak bareng-bareng lagi demi nggak pindah.
Kenapa akhirnya yang ditentang orang tua memilih mundur, atau justru kabur bersama.
Kenapa akhirnya yang cintanya biasa-biasa aja tetap bertahan, atau malah putar arah berjuang mencari cinta yang nggak biasa.
Kenapa akhirnya yang susah-susah mendaki terus bertahan dalam kesusahan, atau malah menyerah dan mencari cinta yang mudah.
Kenapa akhirnya yang suka drama memutuskan untuk piknik sendiri biar santai, atau malah sibuk cari ujung keruwetan dan berharap keajaiban Tuhan datang.




None of us is wrong nor right.
It's just about priority.


Dan untuk gw pribadi, nggak bijak untuk akhirnya merasa lebih bahagia, lebih benar, lebih dewasa, lebih bijaksana, cuma karena kita punya prioritas yang beda sama orang lain. Merasa bahagia sih sah-sah aja. Bahagia kan hasil dari pilihan dan prioritas lo sendiri. Tapi nggak usah ngerasa lebih bahagia dari siapapun. Well, bahkan ekspresi merasa lebih bahagia dari siapapun kadang bikin orang lain berpikir "Are you seriously happy or just busy telling others that you're 'happy'?"

Sesederhana pertanyaan "lebih mending mana: sakit hati atau sakit gigi?"
Buat gw jawabannya definitely SAKIT HATI. Chooooy, sakit gigi sakitnya ke sekujur tubuh! Sakit gigi bikin nggak enak ngapa-ngapain sekalipun hati lo penuh dengan bunga-bunga cinta! Sakit gigi bahkan dijadiin variabel yang dianggap mendekati rasa sakit mau mati, di dalam sebuah penelitian psikologi. SAKIT GIGI UDAH YANG PALING PARAH!

Tapi tetep, itu menurut gw. Kalau ada yang beda ya silahkan aja. Gratis. Nggak dihukum juga.

Hmm.. Atau merasa hubungan lo lebih ciamik karena lebih rasional, dewasa, matang, mapan, daripada hubungan orang lain?
Well, untuk yang satu ini gw masih menganut prinsip 'no relationship is perfect'. Kalau lo mau jujur, akan ada satu dan lain hal yang ada di pasangan lain dan ngga ada di hubungan lo, dan kalau itu ada lo akan lebih bahagia, bukan?

Giving advice is good. Bahkan menurut gw dari berbagi pengalaman, mendengarkan kisah hubungan orang lain, tau dimana lebih dan kurangnya, membuat gw introspeksi sendiri. Lagi-lagi karena ngga ada hubungan yang sempurna.
Trying to fix others relationship is good, too. Selama salah satu dari mereka sendiri lah yang meminta bantuan lo. Bukan tiba-tiba lo nyelonong sok tau dan ngatur ini-itu. Apalagi ketika hubungan yang coba lo perbaiki adalah milik sahabat, saudara, atau orang-orang yang sangat lo pedulikan. Bukan kepo, bukan sibuk komentar, tapi bentuk kepedulian. Kalau kemudian orangnya malah mikir jelek tentang lo dan nggak appreciate sama perhatian yang lo kasih ya mending mabur aja. Nggak ada ruginya buat lo. Mungkin dia lebih suka sakit gigi daripada sakit hati :)




Hmm.. Sebenernya di akhir tulisan ini gw tiba-tiba jadi pengen nanya "apa sih itu kebahagiaan? kok dari tadi gw sebut-sebut terus."
Tapi rasanya sekarang gw lagi secapek-capeknya mikir dan hal yang kaya gitu lebih enak diributin sekalian sama banyak orang daripada ngoceh sendiri di blog, HAHAHA. Jadi yauda deh, segini aja ya :)



SELAMAT BERBAHAGIA!

Continue Reading...

Followers

Follow The Author