So it's been 5 months being a mom. Kalau ditanya bagian mana dari menjadi seorang Ibu yang masih perlu banyak belajar, jawaban pertama adalah : How to deal with mulut jahat nya orang-orang. Like, seriously?! Hahaha.. Postingan ini emang dibuat waktu saya lagi merasakan marah di sekujur badan. Bukan cuma karena Anis-Sandi baru dilantik ya (yea rasanya kaya udah mulai bisa move on, eh disapa lagi sama mantan. Buyar.), tapi juga karena lagi-lagi ketemu orang yang mulutnya ngga bisa menahan diri dari ngomong yang nyakitin Ibu baru kaya saya.
Dari sepanjang 5 bulan menjadi Ibu, apalagi Ibu baru, anak pertama, memang pasti banyak banget advise sana sini yang sebenernya akan membantu kalau yang ngomongnya mikir pake otak dan berempati pake hati. Kalau cuma asal ceplos dan cuma "seenaknya" aja ya jatohnya akan nyakitin. So far, ada dua pernyataan yang masih saya inget banget dan cukup bikin sakit hati. (Un)surprisingly, dua penyataan tersebut datang dari orang yang sama (Some people just don't learn anything, you know).
Mari kita kulitin satu-satu pernyataannya (bukan orangnya ya walaupun rasa hati pengen banget) :
1. "Iqit anaknya dikekepin (dipelukin) terus sih ya.." yang diucapkan ketika saya baru datang, abis turun dari mobil sambil terus meluk gane, karena GANE LAGI NYUSU DAN TIDUR SEJAK DI DALEM MOBIL. Clear ya? Lagian apa yang salah dari ngekepin anak bayi umur 4 bulan (waktu itu)? Anak, anak saya sendiri. Saya ngga lagi ngerokok, udah mandi, anak saya masih bisa nafas walaupun dipeluk, what's so wrong?! Cuma karena lagi banyak sodara-sodara yang pengen gemes-gemes meluk, ngajak main, gendong anak saya, bukan berarti saya kehilangan HAK untuk meluk dia. He's all mine. Ngga dikasih buat dipeluk atau dipegang, even cuma dicolek, itu TOTALLY my rights. Iya. Ini lagi sebel banget, padahal kejadiannya udah sebulan lalu. Hahaha.. Toh sebenernya saya bukan mau ngekepin anak, abis dia nyusu juga saya bolehin untuk digendong orang. Tapi kalau terus orang itu anteng-anteng aja duduk padahal ada orang ngerokok di sekitarnya, itu urusan lain ya. Gane langsung ditarik, titik. No compromise.
2. "Iqit di Jakarta aja gak apa-apa kerja, Gane biar disini (far away from Jakarta). Nanti Iqit kesini Sabtu-Minggu, ketemunya seminggu sekali." Another insanity I can't help. Yang lebih menyakitkan adalah, kalimat itu keucap setelah saya resign. Iya, setelah saya menyerahkan mimpi saya untuk bisa jadi wanita karir, bisa work-child balance gitu, tetep punya kehidupan sosial tapi bisa ngurus anak, selama ini jagain biar Gane bisa tetep ASIX sampe 6 bulan bahkan kalau bisa terus. Saya abis bikin keputusan berat, dan saya memenangkan Gane di atas segalanya, dan sekarang mulut itu dengan enteng dan tega nyuruh saya seminggu sekali doang ketemu Gane?! You think. Lagipula, mana bisa saya membiarkan Gane dirawat sama orang-orang yang ada asap rokok di sebelah Gane but they didn't move a bit, harus saya yang terus sok-sok mau ngangkat Gane ngajak pulang. My kid will get the best care and I'm sure it's not happening without me (specially here).
So, bagi para perempuan di luar sana (laki-laki juga kalau kalian suka komentarin Ibu baru), tolong dijaga bener-bener perkataannya. Seorang Ibu, apalagi baru, apalagi ibu-ibu jaman now, did so much research untuk tau gimana cara merawat anaknya dengan cara yang paling baik. They maybe didn't have the idea of "membesarkan anak" karena yang mereka tau adalah gimana menjaga anak mereka tetep sehat dan happy day by day. If eventually they grow bigger and older, it's just the way it is. Membantu boleh, kasih advise boleh, tapi clumsy jangan. Masih banyak lagi sebenernya omongan atau perbuatan yang saya rasa kurang sreg di hati, tapi saya anggap itu adalah ujian ringan dan bentuk care orang-orang. Kalau dua kalimat tadi, ujian juga sih, tapi kaya ujian dapetin LPDP, susah banget, paling membekas di hati. Bekas yang ngga enak tentunya.
Untuk para Ibu baru di luar sana, semoga kalian tetap strong dan happy. Inget, kalian yang paling tau maunya anak, insting Ibu is the best alarm - kemaren dinasehatin gini sama DSA nya Gane, dan rasanya nyesss. Makasih dok, I heart you.
Continue Reading...
Dari sepanjang 5 bulan menjadi Ibu, apalagi Ibu baru, anak pertama, memang pasti banyak banget advise sana sini yang sebenernya akan membantu kalau yang ngomongnya mikir pake otak dan berempati pake hati. Kalau cuma asal ceplos dan cuma "seenaknya" aja ya jatohnya akan nyakitin. So far, ada dua pernyataan yang masih saya inget banget dan cukup bikin sakit hati. (Un)surprisingly, dua penyataan tersebut datang dari orang yang sama (Some people just don't learn anything, you know).
Mari kita kulitin satu-satu pernyataannya (bukan orangnya ya walaupun rasa hati pengen banget) :
1. "Iqit anaknya dikekepin (dipelukin) terus sih ya.." yang diucapkan ketika saya baru datang, abis turun dari mobil sambil terus meluk gane, karena GANE LAGI NYUSU DAN TIDUR SEJAK DI DALEM MOBIL. Clear ya? Lagian apa yang salah dari ngekepin anak bayi umur 4 bulan (waktu itu)? Anak, anak saya sendiri. Saya ngga lagi ngerokok, udah mandi, anak saya masih bisa nafas walaupun dipeluk, what's so wrong?! Cuma karena lagi banyak sodara-sodara yang pengen gemes-gemes meluk, ngajak main, gendong anak saya, bukan berarti saya kehilangan HAK untuk meluk dia. He's all mine. Ngga dikasih buat dipeluk atau dipegang, even cuma dicolek, itu TOTALLY my rights. Iya. Ini lagi sebel banget, padahal kejadiannya udah sebulan lalu. Hahaha.. Toh sebenernya saya bukan mau ngekepin anak, abis dia nyusu juga saya bolehin untuk digendong orang. Tapi kalau terus orang itu anteng-anteng aja duduk padahal ada orang ngerokok di sekitarnya, itu urusan lain ya. Gane langsung ditarik, titik. No compromise.
2. "Iqit di Jakarta aja gak apa-apa kerja, Gane biar disini (far away from Jakarta). Nanti Iqit kesini Sabtu-Minggu, ketemunya seminggu sekali." Another insanity I can't help. Yang lebih menyakitkan adalah, kalimat itu keucap setelah saya resign. Iya, setelah saya menyerahkan mimpi saya untuk bisa jadi wanita karir, bisa work-child balance gitu, tetep punya kehidupan sosial tapi bisa ngurus anak, selama ini jagain biar Gane bisa tetep ASIX sampe 6 bulan bahkan kalau bisa terus. Saya abis bikin keputusan berat, dan saya memenangkan Gane di atas segalanya, dan sekarang mulut itu dengan enteng dan tega nyuruh saya seminggu sekali doang ketemu Gane?! You think. Lagipula, mana bisa saya membiarkan Gane dirawat sama orang-orang yang ada asap rokok di sebelah Gane but they didn't move a bit, harus saya yang terus sok-sok mau ngangkat Gane ngajak pulang. My kid will get the best care and I'm sure it's not happening without me (specially here).
So, bagi para perempuan di luar sana (laki-laki juga kalau kalian suka komentarin Ibu baru), tolong dijaga bener-bener perkataannya. Seorang Ibu, apalagi baru, apalagi ibu-ibu jaman now, did so much research untuk tau gimana cara merawat anaknya dengan cara yang paling baik. They maybe didn't have the idea of "membesarkan anak" karena yang mereka tau adalah gimana menjaga anak mereka tetep sehat dan happy day by day. If eventually they grow bigger and older, it's just the way it is. Membantu boleh, kasih advise boleh, tapi clumsy jangan. Masih banyak lagi sebenernya omongan atau perbuatan yang saya rasa kurang sreg di hati, tapi saya anggap itu adalah ujian ringan dan bentuk care orang-orang. Kalau dua kalimat tadi, ujian juga sih, tapi kaya ujian dapetin LPDP, susah banget, paling membekas di hati. Bekas yang ngga enak tentunya.
Untuk para Ibu baru di luar sana, semoga kalian tetap strong dan happy. Inget, kalian yang paling tau maunya anak, insting Ibu is the best alarm - kemaren dinasehatin gini sama DSA nya Gane, dan rasanya nyesss. Makasih dok, I heart you.