Sunday, 7 December 2014

and this is how it goes ...

no.

it's not me and you vs the world
it's me vs you and the world.

it's tiring.
longing and waiting.
collide and cracked.


long pause and silence.
kills time along with me.


The distance please rest in peace.
Continue Reading...

Saturday, 6 December 2014

Senja Berbintang Di Sastra

Malam ini hati seperti sedang riang. Bertemu dengan kumpulan jiwa yang selalu tertawa. Bersama mereka, saya melupakan hampir segala. Di tengah kerumunan, saya berbincang dengan rasa yang buyar. Merindukan yang jauh disana.. Yang hampir setiap saat mengisi pikiran.

Kamu tau, memikirkan kamu seperti menghabiskan energi.
Jenis kegiatan melelahkan yang paling saya usahakan.

Kamu tau, terkadang saya membutuhkan energi untuk menggantikan rasa yang lelah.
Saya meminta tapi seperti tidak pernah punya..
Saya melemah dan melelah.

Saya memikirkan kamu disana. Merindukan kamu yang diam.
Saya menunggu kabar.

Continue Reading...

Friday, 7 November 2014

AYAH

Kemarin sore, saya dikirimi foto selfie Ayah. Dengan caption yang bikin ketawa, tetapi bikin menangis sebelum tidur: “Mau sholat jumat, masih cakep ya nak”

Saya punya banyak rasa untuk Ayah: marah, senang, sedih. Beberapa orang bilang, atau menulis, atau mengutip, bahwa Ayah adalah cinta pertama mereka. Tidak, saya tidak akan membahas pernyataan ini dengan teori manapun.
Tapi kalau saya pakai logika mereka, mungkin Ayah bagi saya adalah “kasih tak sampai” yang pertama. Ada alasan kenapa Tuhan baru membiarkan saya ‘mengenal’ Ayah, justru di saat saya hampir tidak menjadi anak Ayah. Mungkin sayang sama Ayah tapi tidak bisa bersama terlalu berat untuk saya di waktu-waktu lalu.

Saya selalu percaya Ayah sayang. Tapi tetap saya tidak bisa mengerti mengapa harus ada yang pergi. Di beberapa menit dalam 24 tahun kehidupan saya, selalu saja ada pertanyaan “Tuhan, kenapa harus saya?”.

Dulu, ada orang yang rajin mendengarkan cerita saya soal Ayah. Kerinduan pada Ayah seperti luruh di waktu-waktu bercerita dengan dia. Saya masih ingat bagaimana ia dengan seksama mendengarkan cerita saya tentang Ayah, membiarkan saya menangis, entah menangisi apa tentang Ayah. Ia bahkan menawarkan ayahnya untuk menjadi Ayah saya. Supaya saya merasa punya Ayah, katanya. Then life hit him hard. Entah, setelah itu saya seperti kehilangan bagian-bagian kecil dari kehangatannya. Perlahan-lahan, ia mulai terasa dingin, dan saya kembali sendirian merindukan Ayah.

Mengingat Ayah selalu membuat saya menangis. Ayah benar-benar seperti kasih tak sampai yang belum bisa saya ikhlaskan. The most painful thing, he’s not happy neither. Ada rasa bersalah yang juga belum Ayah taklukkan. Dan saya hanya bisa meminta pada Tuhan untuk menjaga Ayah dan menenangkan hatinya. Mungkin juga meringankan hidupnya.


O iya, satu lagi Tuhan. Tolong maafkan semua apa yang aku tuduhkan soal Ayah. Aku sayang Ayah.
Continue Reading...

Friday, 17 October 2014

Da da da daddy

Things happened back then. You know, lots of things I can't understand. Feeling abandoned and think that there's no one gonna stick with you (no matter what). Because maybe the person you wished never leave you, you think should be your first love (just because your friends say so), in reality is never been there. 

Okay, he was there. But too far till you hardly saw him. 

You're not saying that you hate him. Hate the situation, maybe. But not him as a person. Because as you grow older, you realise there's many things you can't control. That any kind of separation with the one you love is never been asked for. 

There's no sweet times left in your story. There's maybe just a bunch of memories how you two are trying hard to make this kind of relationship works. It's kinda sweet, though :) 

That feeling never disappeared. To be left and didn't have so called first love. But as a human, knowing there's a person who loves you (though he left, and don't ask why he left if he loves you :p), it's broke my heart. The old body is sad most of the time. Thinking about what he did years ago. Something that he don't regret but it's killing him to carry the consequences for the rest of his life. 

Dad please be okay.
I'm fine. Everything is fine. 
God is good, so does life.
I don't know if "I love you" would be the proper word to say. 
I just wanna see you happy. So please be happy :)
Continue Reading...

Friday, 22 August 2014

Current addiction: NYX Soft Matte Lip Cream

Again. I bought nyx soft matte lip cream, online. Hehehe.. It's because so hard to find them at the store. It's always sold out or only one shade (which is not the one I'm looking for) available. 
Yes, you may see the pic. Here they are: 




I currently have 4 shade: stockholm (which I love the most! I have two of this shade), athens (bought this shade out of plan because I want to order istanbul at the first place but it's out of stock), antwerp (my friend suggested this shade and I read some nice reviews about this shade), and milan (this is my niece's suggestion, she was the person who introduce me to nyc smlc :p)

And my review is:

I love stockholm the most! I love its nude color but not as pale as athens. I kinda dissaponted with athens because it's too light so I have to apply it more than once, and it have to be thick so the color's shown. The finishing is also too pale for me. Athens may works for people with lighter lips color.
Milan and antwerp is great. It's just the color doesn't suit my daily look, hehehe.. Their color is sooo bright, with pink shade on milan, and orange/peach on antwerp. For special occasion or for you who confident enough to use these color everyday, it's very recommended. It makes you look fresh and fun with its playful color. 

Another shade I want to buy?

THE REST OF THEM.
Hahaha..
Even I asked the 22 shade of them for my birthday present to my sister! (Of course I'm joking. It's too much and.... too long. My upcoming birthday is on the next year, huhu..)
By the way, I still want to try istanbul. and amsterdam. and buenos aires.
:"D
Looking forward to try those shades.


Oh, and the nyx "stay matte but not flat" powder foundation. Hihihi...
Continue Reading...

Sunday, 9 March 2014

As Much As Cony Loves Brown

Di dalam hidup ini, akan banyak sekali hal yang akan membuat lo ragu. Ragu atas apapun. Atas pilihan jurusan lo, pilihan pasangan lo, pilihan kerjaan lo, atau bahkan pilihan-pilihan sederhana kayak pilihan baju atau makanan lo.
Kalau kemudian pertanyaannya "kenapa?", gw akan dengan sederhana menjawabnya, "karena mereka bukan lo. Mereka nggak mengerti rasanya jadi lo, berikut dengan alasan-alasan lo memilih pilihan lo itu."
Postingan ini sebenernya terinspirasi dari postingan seorang teman tentang betapa pacarnya itu bekerja keras dan menjamin hidup mereka akan bahagia sebagai suami-istri nantinya. Dan mereka emang perlahan-lahan mendekati mapan. Temen gw ini selalu bilang pacarnya nggak romantis, tapi buat gw, potongan percakapan mereka dan apa yang dibilang pacarnya itu adalah hal yang super-duper romantis! Hehehe..

Kemudian gw keinget pacar gw sendiri.
Hey, bukannya dia nggak romantis atau nggak pernah bekerja keras buat hubungan gw ya.
He did. Ya.. meski emang dia bener nggak romantis.
But he worked so hard. Not only for me, but also for everything he has.

Gw terkesan iri ya. Mungkin iya. Hehehe..
Iri bukan karena mereka mendekati mapan. Bukan iri karena pacar temen gw udah kerja dan pacar gw belum. Tapi iri karena gw tau betul, bahkan setelah pacar gw punya pekerjaan dan mapan sekalipun, gw bukanlah satu-satunya orang yang akan dibahagiain.
I'm kind of envy, but at the same time it makes me even more proud of him.

Akan banyak hal yang harus dia urusi sebelum gw. Sebelum sekedar membahagiakan gw. Meskipun gw tau, di setiap langkah, keputusan, dan pikiran yang dia ambil, selalu ada kebahagiaan gw yang ditimbang-timbang :) Sekalipun gw sudah berkeluarga nanti, gw sadar betul bahwa dia tetap bukan milik gw sepenuhnya. Bukan cuma gw dan anak-anak gw yang ingin dia bahagiain. Bahkan dari hubungan gw belum se-serius sekarang pun, pacar gw sudah mengingatkan. Entah maksudnya mempersilahkan gw untuk pergi atau apa, tapi pada akhirnya malah gw merasa "pantes aja Tuhan memasangkan lo sama gw. Karena perempuan kuat memang untuk laki-laki dengan beban hidup yang berat." hahaha ..

Iya, gw memang masih senang dengan kalimat-kalimat yang mengesankan gw lemah dan butuh laki-laki untuk menopang gw secara finansial maupun emosional. Kayak misalnya, gw masih seneng kalau ada laki-laki yang bilang akan bikin gw bahagia. Seolah-olah kebahagiaan gw cuma bisa didapet dari dia doang. Tapi dari pacar gw yang super sabar dan baik hati ini gw juga belajar, gak melulu dibahagiakan itu menyenangkan. Ada masa dimana "bertambah dewasa" berarti "bukan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri", apalagi kalau konteksnya dalam relationship. Gw sadar betul, gw nggak bisa banyak-banyak menuntut dari dia. Tapi sekaligus gw juga tau, tanpa perlu dituntut pun, yang terbaik buat gw adalah prioritasnya.

Entah gimana dia membuat gw merasa seperti itu.
Entah perlakuan dan ucapan dia yang mana yang membuat gw begitu yakin, walaupun di luar sana bertebaran hal-hal yang sangat mungkin membuat gw ragu.
Mungkin benar yang dia pernah bilang:

"Apa yang dari hati, sampainya ke hati juga..."


Continue Reading...

Wednesday, 1 January 2014

Jangan terkejut, Aufira

Jangan terkejut, Aufira
Jika kau temukan orang kejam yang menuduhmu sedemikian rupa.

Jangan terkejut, Aufira
Ketika ada orang yang menilai semuanya dengan harta.
Kau tau? Bagi mereka, penderitaan adalah uang yang mereka inginkan tidak kunjung datang.
Bagi mereka, tidak sanggup membeli segalanya membuat mereka jadi manusia paling menderita sedunia.
Dan mereka kemudian memicingkan mata.
Melihatmu seolah engkau paling beruntung sejagad raya. Tuhan memberkati. Tuhan mengasihi.
Melihat hari-harimu yang serba tidak berkekurangan..
Tanpa melihat seberapa banyak kelebihan itu telah kau bagi dengan mereka.
Telah kau ringankan bebannya.
Bahkan kau larutkam dirimu dalam apa yang mereka sebut penderitaan.

Jangan terkejut, Aufira
Dunia tidak berisi orang yang selalu sepakat denganmu
Terkadang, mereka mencibir semua keputusanmu hanya karena kamu bukan mereka
Meragukan pilihanmu dan mencelamu, karena mereka begitu lemah untuk melawan takdir mereka sendiri.

Jangan terkejut, Aufira
Tidal semua orang rela menurunkan batas kenyamanannya, untuk sesuatu yang tampak begitu kecil

Jangan terkejut, Aufira
Bahkan raga yang kau deritakan demi dia, dicela pula olehnya.

Jangan terkejut, Aufira
Jika kemudian kau temukan bahwa nilai uang, justru paling dimengerti oleh orang yang memilikinya.
Mati-matian mencarinya.
Mati-matian mendapatkannya.
Mati-matian menjaganya.
Dan setelah itu mereka tau, tidak ada keajaiban.
Continue Reading...

Followers

Follow The Author