Di dalam hidup ini, akan banyak sekali hal yang akan membuat lo ragu. Ragu atas apapun. Atas pilihan jurusan lo, pilihan pasangan lo, pilihan kerjaan lo, atau bahkan pilihan-pilihan sederhana kayak pilihan baju atau makanan lo.
Kalau kemudian pertanyaannya "kenapa?", gw akan dengan sederhana menjawabnya, "karena mereka bukan lo. Mereka nggak mengerti rasanya jadi lo, berikut dengan alasan-alasan lo memilih pilihan lo itu."
Postingan ini sebenernya terinspirasi dari postingan seorang teman tentang betapa pacarnya itu bekerja keras dan menjamin hidup mereka akan bahagia sebagai suami-istri nantinya. Dan mereka emang perlahan-lahan mendekati mapan. Temen gw ini selalu bilang pacarnya nggak romantis, tapi buat gw, potongan percakapan mereka dan apa yang dibilang pacarnya itu adalah hal yang super-duper romantis! Hehehe..
Kemudian gw keinget pacar gw sendiri.
Hey, bukannya dia nggak romantis atau nggak pernah bekerja keras buat hubungan gw ya.
He did. Ya.. meski emang dia bener nggak romantis.
But he worked so hard. Not only for me, but also for everything he has.
Gw terkesan iri ya. Mungkin iya. Hehehe..
Iri bukan karena mereka mendekati mapan. Bukan iri karena pacar temen gw udah kerja dan pacar gw belum. Tapi iri karena gw tau betul, bahkan setelah pacar gw punya pekerjaan dan mapan sekalipun, gw bukanlah satu-satunya orang yang akan dibahagiain.
I'm kind of envy, but at the same time it makes me even more proud of him.
Akan banyak hal yang harus dia urusi sebelum gw. Sebelum sekedar membahagiakan gw. Meskipun gw tau, di setiap langkah, keputusan, dan pikiran yang dia ambil, selalu ada kebahagiaan gw yang ditimbang-timbang :) Sekalipun gw sudah berkeluarga nanti, gw sadar betul bahwa dia tetap bukan milik gw sepenuhnya. Bukan cuma gw dan anak-anak gw yang ingin dia bahagiain. Bahkan dari hubungan gw belum se-serius sekarang pun, pacar gw sudah mengingatkan. Entah maksudnya mempersilahkan gw untuk pergi atau apa, tapi pada akhirnya malah gw merasa "pantes aja Tuhan memasangkan lo sama gw. Karena perempuan kuat memang untuk laki-laki dengan beban hidup yang berat." hahaha ..
Iya, gw memang masih senang dengan kalimat-kalimat yang mengesankan gw lemah dan butuh laki-laki untuk menopang gw secara finansial maupun emosional. Kayak misalnya, gw masih seneng kalau ada laki-laki yang bilang akan bikin gw bahagia. Seolah-olah kebahagiaan gw cuma bisa didapet dari dia doang. Tapi dari pacar gw yang super sabar dan baik hati ini gw juga belajar, gak melulu dibahagiakan itu menyenangkan. Ada masa dimana "bertambah dewasa" berarti "bukan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri", apalagi kalau konteksnya dalam relationship. Gw sadar betul, gw nggak bisa banyak-banyak menuntut dari dia. Tapi sekaligus gw juga tau, tanpa perlu dituntut pun, yang terbaik buat gw adalah prioritasnya.
Entah gimana dia membuat gw merasa seperti itu.
Entah perlakuan dan ucapan dia yang mana yang membuat gw begitu yakin, walaupun di luar sana bertebaran hal-hal yang sangat mungkin membuat gw ragu.
Mungkin benar yang dia pernah bilang:
"Apa yang dari hati, sampainya ke hati juga..."
Continue Reading...
Kalau kemudian pertanyaannya "kenapa?", gw akan dengan sederhana menjawabnya, "karena mereka bukan lo. Mereka nggak mengerti rasanya jadi lo, berikut dengan alasan-alasan lo memilih pilihan lo itu."
Postingan ini sebenernya terinspirasi dari postingan seorang teman tentang betapa pacarnya itu bekerja keras dan menjamin hidup mereka akan bahagia sebagai suami-istri nantinya. Dan mereka emang perlahan-lahan mendekati mapan. Temen gw ini selalu bilang pacarnya nggak romantis, tapi buat gw, potongan percakapan mereka dan apa yang dibilang pacarnya itu adalah hal yang super-duper romantis! Hehehe..
Kemudian gw keinget pacar gw sendiri.
Hey, bukannya dia nggak romantis atau nggak pernah bekerja keras buat hubungan gw ya.
He did. Ya.. meski emang dia bener nggak romantis.
But he worked so hard. Not only for me, but also for everything he has.
Gw terkesan iri ya. Mungkin iya. Hehehe..
Iri bukan karena mereka mendekati mapan. Bukan iri karena pacar temen gw udah kerja dan pacar gw belum. Tapi iri karena gw tau betul, bahkan setelah pacar gw punya pekerjaan dan mapan sekalipun, gw bukanlah satu-satunya orang yang akan dibahagiain.
I'm kind of envy, but at the same time it makes me even more proud of him.
Akan banyak hal yang harus dia urusi sebelum gw. Sebelum sekedar membahagiakan gw. Meskipun gw tau, di setiap langkah, keputusan, dan pikiran yang dia ambil, selalu ada kebahagiaan gw yang ditimbang-timbang :) Sekalipun gw sudah berkeluarga nanti, gw sadar betul bahwa dia tetap bukan milik gw sepenuhnya. Bukan cuma gw dan anak-anak gw yang ingin dia bahagiain. Bahkan dari hubungan gw belum se-serius sekarang pun, pacar gw sudah mengingatkan. Entah maksudnya mempersilahkan gw untuk pergi atau apa, tapi pada akhirnya malah gw merasa "pantes aja Tuhan memasangkan lo sama gw. Karena perempuan kuat memang untuk laki-laki dengan beban hidup yang berat." hahaha ..
Iya, gw memang masih senang dengan kalimat-kalimat yang mengesankan gw lemah dan butuh laki-laki untuk menopang gw secara finansial maupun emosional. Kayak misalnya, gw masih seneng kalau ada laki-laki yang bilang akan bikin gw bahagia. Seolah-olah kebahagiaan gw cuma bisa didapet dari dia doang. Tapi dari pacar gw yang super sabar dan baik hati ini gw juga belajar, gak melulu dibahagiakan itu menyenangkan. Ada masa dimana "bertambah dewasa" berarti "bukan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri", apalagi kalau konteksnya dalam relationship. Gw sadar betul, gw nggak bisa banyak-banyak menuntut dari dia. Tapi sekaligus gw juga tau, tanpa perlu dituntut pun, yang terbaik buat gw adalah prioritasnya.
Entah gimana dia membuat gw merasa seperti itu.
Entah perlakuan dan ucapan dia yang mana yang membuat gw begitu yakin, walaupun di luar sana bertebaran hal-hal yang sangat mungkin membuat gw ragu.
Mungkin benar yang dia pernah bilang:
"Apa yang dari hati, sampainya ke hati juga..."
