Kemarin sore, saya dikirimi foto selfie Ayah. Dengan caption
yang bikin ketawa, tetapi bikin menangis sebelum tidur: “Mau sholat jumat,
masih cakep ya nak”
Saya punya banyak rasa untuk Ayah: marah, senang, sedih. Beberapa
orang bilang, atau menulis, atau mengutip, bahwa Ayah adalah cinta pertama
mereka. Tidak, saya tidak akan membahas pernyataan ini dengan teori manapun.
Tapi kalau saya pakai logika mereka, mungkin Ayah bagi saya
adalah “kasih tak sampai” yang pertama. Ada alasan kenapa Tuhan baru membiarkan
saya ‘mengenal’ Ayah, justru di saat saya hampir tidak menjadi anak Ayah.
Mungkin sayang sama Ayah tapi tidak bisa bersama terlalu berat untuk saya di
waktu-waktu lalu.
Saya selalu percaya Ayah sayang. Tapi tetap saya tidak bisa
mengerti mengapa harus ada yang pergi. Di beberapa menit dalam 24 tahun
kehidupan saya, selalu saja ada pertanyaan “Tuhan, kenapa harus saya?”.
Dulu, ada orang yang rajin mendengarkan cerita saya soal
Ayah. Kerinduan pada Ayah seperti luruh di waktu-waktu bercerita dengan dia. Saya
masih ingat bagaimana ia dengan seksama mendengarkan cerita saya tentang Ayah,
membiarkan saya menangis, entah menangisi apa tentang Ayah. Ia bahkan
menawarkan ayahnya untuk menjadi Ayah saya. Supaya saya merasa punya Ayah,
katanya. Then life hit him hard. Entah, setelah itu saya seperti kehilangan
bagian-bagian kecil dari kehangatannya. Perlahan-lahan, ia mulai terasa dingin,
dan saya kembali sendirian merindukan Ayah.
Mengingat Ayah selalu membuat saya menangis. Ayah
benar-benar seperti kasih tak sampai yang belum bisa saya ikhlaskan. The most
painful thing, he’s not happy neither. Ada rasa bersalah yang juga belum Ayah
taklukkan. Dan saya hanya bisa meminta pada Tuhan untuk menjaga Ayah dan
menenangkan hatinya. Mungkin juga meringankan hidupnya.
O iya, satu lagi Tuhan. Tolong maafkan semua apa yang aku
tuduhkan soal Ayah. Aku sayang Ayah.