Friday, 7 November 2014

AYAH

Kemarin sore, saya dikirimi foto selfie Ayah. Dengan caption yang bikin ketawa, tetapi bikin menangis sebelum tidur: “Mau sholat jumat, masih cakep ya nak”

Saya punya banyak rasa untuk Ayah: marah, senang, sedih. Beberapa orang bilang, atau menulis, atau mengutip, bahwa Ayah adalah cinta pertama mereka. Tidak, saya tidak akan membahas pernyataan ini dengan teori manapun.
Tapi kalau saya pakai logika mereka, mungkin Ayah bagi saya adalah “kasih tak sampai” yang pertama. Ada alasan kenapa Tuhan baru membiarkan saya ‘mengenal’ Ayah, justru di saat saya hampir tidak menjadi anak Ayah. Mungkin sayang sama Ayah tapi tidak bisa bersama terlalu berat untuk saya di waktu-waktu lalu.

Saya selalu percaya Ayah sayang. Tapi tetap saya tidak bisa mengerti mengapa harus ada yang pergi. Di beberapa menit dalam 24 tahun kehidupan saya, selalu saja ada pertanyaan “Tuhan, kenapa harus saya?”.

Dulu, ada orang yang rajin mendengarkan cerita saya soal Ayah. Kerinduan pada Ayah seperti luruh di waktu-waktu bercerita dengan dia. Saya masih ingat bagaimana ia dengan seksama mendengarkan cerita saya tentang Ayah, membiarkan saya menangis, entah menangisi apa tentang Ayah. Ia bahkan menawarkan ayahnya untuk menjadi Ayah saya. Supaya saya merasa punya Ayah, katanya. Then life hit him hard. Entah, setelah itu saya seperti kehilangan bagian-bagian kecil dari kehangatannya. Perlahan-lahan, ia mulai terasa dingin, dan saya kembali sendirian merindukan Ayah.

Mengingat Ayah selalu membuat saya menangis. Ayah benar-benar seperti kasih tak sampai yang belum bisa saya ikhlaskan. The most painful thing, he’s not happy neither. Ada rasa bersalah yang juga belum Ayah taklukkan. Dan saya hanya bisa meminta pada Tuhan untuk menjaga Ayah dan menenangkan hatinya. Mungkin juga meringankan hidupnya.


O iya, satu lagi Tuhan. Tolong maafkan semua apa yang aku tuduhkan soal Ayah. Aku sayang Ayah.
Continue Reading...

Followers

Follow The Author